

Jalan kecil yang menghubungkan Dukuh Ngracak dengan Dukuh Selokerto dan Dukuh Menjing pernah menjadi urat nadi kehidupan warga. Namun sejak bencana tanah gerak melanda pada tahun 2014, jalan itu rusak parah dan nyaris tak bisa dilalui. Tanah yang labil membuat upaya perbaikan dari dana desa tak kunjung terealisasi. Tahun demi tahun berlalu, dan jalan itu tetap menjadi luka terbuka di tengah harapan masyarakat. Namun harapan tak pernah benar-benar mati. Di tengah keterbatasan, gereja bersama masyarakat setempat memutuskan untuk bertindak. Mereka tidak menunggu bantuan datang dari luar, melainkan memulai dari dalam—dari iman, semangat gotong royong, dan cinta akan kampung halaman.
Melanjutkan Harapan
Kini, perbaikan jalan menuju Pepanthan Jambon telah memasuki tahap ketiga. Pendanaan sepenuhnya berasal dari gereja, sementara tenaga dan semangat kerja datang dari masyarakat dan warga gereja. Mereka datang dengan cangkul, sekop, dan harapan. Tidak ada kontraktor besar, tidak ada alat berat. Hanya tangan-tangan yang rela bekerja demi kenyamanan bersama.
Setiap batu yang ditata, setiap tanah yang diratakan, adalah simbol dari iman yang bekerja. Anak-anak muda, bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan lansia ikut ambil bagian. Ada yang memasak untuk para pekerja, ada yang mengangkut material, dan ada pula yang sekadar hadir untuk menyemangati.
Lebih dari Sekadar Jalan
Perbaikan ini bukan hanya soal infrastruktur. Ini tentang membangun kembali koneksi antar dukuh, memulihkan akses menuju tempat ibadah, dan memperkuat rasa memiliki terhadap tanah kelahiran. Pepanthan Jambon bukan sekadar bangunan gereja—ia adalah pusat spiritual, tempat berkumpul, tempat belajar, dan tempat berbagi kasih.
Setiap tahap perbaikan membawa cerita baru. Di tahap pertama, mereka hanya bisa memperbaiki sebagian kecil jalur yang paling rusak. Tahap kedua memperluas akses hingga kendaraan roda dua bisa melintas dengan aman. Dan kini, di tahap ketiga, harapan semakin nyata: jalan ini akan benar-benar bisa dilalui dengan nyaman, bahkan saat hujan turun.
Jalan Kasih yang Tak Pernah Lelah
Perbaikan jalan menuju Pepanthan Jambon adalah bukti bahwa kasih bisa menggerakkan batu, meratakan tanah, dan menyatukan hati. Di tengah keterbatasan, masyarakat memilih untuk tidak menyerah. Mereka membangun jalan, dan sekaligus membangun harapan.
Semoga jalan ini bukan hanya menghubungkan dukuh demi dukuh, tapi juga menghubungkan hati demi hati. Karena di ujung jalan itu, ada terang yang tak pernah padam—terang iman, terang kasih, dan terang masa depan.

