
Nats diambil dari Lukas 12:32–40 (TB):
32 Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.
33 Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat.
34 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
35 “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.
36 Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya.
37 Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.
38 Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka.
39 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.
40 Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.”
Di tengah tantangan zaman—krisis moral, ketidakpastian ekonomi, dan konflik sosial—iman menjadi jangkar yang menenangkan. Minggu ini menjadi momen untuk mengingat bahwa bangsa yang beriman adalah bangsa yang tidak tunduk pada ketakutan, tetapi berani melangkah dengan pengharapan. Yesus memulai pengajaran ini dengan kalimat yang sangat lembut dan penuh penghiburan: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil!” Kalimat ini seperti pelukan bagi jiwa yang gelisah. Di tengah dunia yang penuh ancaman, Tuhan tidak menyuruh kita untuk kuat dulu, tapi percaya dulu. Ia tahu kita kecil, rapuh, dan sering cemas. Tapi justru kepada kawanan kecil inilah Kerajaan Allah diberikan. Bukan kepada yang sombong, bukan kepada yang merasa hebat, tapi kepada mereka yang bersandar penuh pada kasih Bapa.
Yesus lalu mengajak kita untuk melepaskan keterikatan pada harta dunia. Bukan karena harta itu jahat, tapi karena hati kita mudah terpikat. Ia menyuruh kita menjual, memberi, dan menabung di sorga. Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu. Kalau hati kita hanya tertambat pada rekening, properti, atau status sosial, maka kita akan hidup dalam kecemasan. Tapi kalau hati kita tertambat pada kasih Tuhan, maka kita akan hidup dalam damai. Bayangkan seorang bapak yang setiap hari gelisah karena harga pupuk naik, hasil panen turun, dan anaknya belum dapat kerja. Tapi di tengah semua itu, ia tetap berdoa, tetap berbagi, dan tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan. Itulah iman yang mengalahkan kecemasan.
Yesus juga mengajak kita untuk berjaga-jaga. Bukan berjaga karena takut, tapi berjaga karena berharap. Seperti pelita yang tetap menyala, seperti hamba yang menanti tuannya pulang. Ini bukan soal jam berapa Tuhan datang, tapi soal kesiapan hati. Dalam ilustrasi Yesus, hamba yang berjaga akan dilayani oleh tuannya sendiri. Ini gambaran yang luar biasa: Tuhan yang melayani kita! Tapi hanya bagi mereka yang setia, yang tidak tertidur oleh kenyamanan dunia. Kita diajak untuk hidup waspada, bukan curiga. Siap sedia, bukan panik. Karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kita sangka. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengingatkan bahwa hidup ini bukan milik kita sepenuhnya.
Renungan ini mengajak kita untuk menjadi pribadi yang teguh, membawa damai di tengah badai. Dalam konteks kebangsaan, kita diajak untuk menjadi warga yang tidak mudah panik oleh isu politik, ekonomi, atau sosial. Kita diajak untuk menjadi terang di tengah gelap, menjadi pelita yang tetap menyala. Bangsa yang beriman adalah bangsa yang tidak lari dari masalah, tapi menghadapi dengan pengharapan. Kita butuh pemimpin yang berani percaya, bukan hanya pintar strategi. Kita butuh gereja yang berani mengasihi, bukan hanya sibuk program. Kita butuh jemaat yang berani hidup dalam iman, bukan hanya sibuk menimbun rasa aman.
Mari kita isi Minggu II Bulan Kebangsaan ini dengan semangat baru: percaya lebih dalam, berbagi lebih luas, dan berjaga lebih tekun. Karena iman bukan sekadar keyakinan, tapi keberanian untuk tetap berdiri ketika semua orang mulai goyah. Dan bangsa yang beriman adalah bangsa yang tidak hanya bertahan, tapi juga membawa harapan. Jangan takut, kawanan kecil. Kerajaan itu sudah disediakan untukmu.