
Nats diambil dari Galatia 5:13 (TB):
“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”
PANGGILAN UNTUK MERDEKA
Di desa, kemerdekaan sering dirayakan dengan semangat gotong royong. Warga berkumpul untuk bersih-bersih lingkungan, menghias gapura, dan mengadakan lomba-lomba sederhana. Tapi di balik euforia itu, ada pertanyaan penting: setelah merdeka, kita mau hidup seperti apa? Ayat dari Galatia ini mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan untuk hidup semaunya, tapi untuk melayani satu sama lain dengan kasih.
Kemerdekaan sejati bukan cuma soal bebas dari penjajahan, tapi bebas dari egoisme, iri hati, dan sikap acuh tak acuh. Di desa, kita bisa lihat banyak contoh: ada yang setelah diberi kepercayaan malah jadi sombong, ada yang merasa merdeka tapi justru menjauh dari pelayanan gereja. Padahal, kemerdekaan yang Kristus berikan adalah panggilan untuk hidup dalam kasih, bukan dalam kesenangan pribadi.
Contohnya, seorang ibu di desa yang tiap pagi bangun lebih awal untuk menyiapkan makanan bagi anak-anak sekolah minggu. Ia tak digaji, tak dipuji, tapi ia melayani dengan sukacita. Atau seorang pemuda yang rela mengajar anak-anak membaca Alkitab di rumahnya, walau rumahnya sederhana dan tak punya banyak fasilitas. Mereka adalah contoh nyata dari orang-orang yang menggunakan kemerdekaan untuk melayani.
Kemerdekaan yang tidak disertai kasih akan jadi bumerang. Kita bisa bebas bicara, tapi kalau tanpa kasih, kata-kata kita bisa melukai. Kita bisa bebas memilih, tapi kalau tanpa kasih, pilihan kita bisa merugikan orang lain. Di desa, ini bisa terjadi saat ada konflik antar warga, rebutan tanah, atau perselisihan dalam panitia gereja. Kemerdekaan harus diimbangi dengan kerendahan hati dan semangat melayani.
Saat kita merayakan 17 Agustus, mari kita renungkan: apakah kita sudah menggunakan kemerdekaan kita untuk hal yang benar? Apakah kita sudah jadi berkat bagi tetangga, bagi gereja, bagi lingkungan? Jangan sampai kita merdeka secara lahiriah, tapi terikat oleh dosa dan ego. Kristus memanggil kita untuk merdeka, tapi juga untuk melayani.
Di desa, pelayanan bisa dilakukan lewat hal-hal kecil: membantu tetangga yang sakit, ikut kerja bakti, menyapa dengan ramah, atau sekadar mendengarkan curhat orang yang kesepian. Semua itu adalah bentuk pelayanan yang lahir dari kemerdekaan yang benar. Karena kemerdekaan dalam Kristus bukan soal status, tapi soal sikap hati.
Jadi, mari kita rayakan kemerdekaan dengan semangat melayani. Bukan cuma dengan bendera dan lagu-lagu perjuangan, tapi dengan tindakan nyata yang menunjukkan kasih Kristus. Karena bangsa yang besar bukan cuma yang merdeka, tapi yang saling melayani dengan tulus. Dan desa yang kuat bukan cuma yang punya gapura indah, tapi yang warganya hidup dalam kasih dan pelayanan.