
Nats diambil dari Yosua 1:9 (TB):
“Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”
KUATKAN DAN TEGUHKAN HATI
Di desa, hidup itu perjuangan. Dari pagi buta, suara ayam membangunkan kita untuk mulai hari dengan kerja keras. Ada yang ke sawah, ada yang ke ladang, ada yang jualan di pasar, ada yang mengajar di sekolah sederhana. Tapi di balik semua itu, ada semangat yang tak pernah padam—semangat untuk bertahan, untuk memberi yang terbaik, dan untuk tetap percaya bahwa Tuhan menyertai. Ayat dari Yosua ini bukan cuma untuk tentara atau pemimpin besar, tapi juga untuk kita semua yang berjuang di medan kehidupan sehari-hari.
Kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari penjajahan, tapi juga soal bebas dari rasa takut, dari putus asa, dari kecut hati. Di desa, kita sering dihadapkan pada kenyataan yang tidak mudah: panen gagal, harga turun, anak sakit, jalan rusak, listrik padam. Tapi Tuhan berkata, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu.” Itu bukan sekadar motivasi, tapi perintah ilahi. Karena Tuhan tahu, kita ini pahlawan-pahlawan yang sedang berjuang, dan Dia tidak akan membiarkan kita sendirian.
Contohnya, Pak Slamet, petani tua di ujung kampung, tetap menanam padi meski musim tak menentu. Ia bilang, “Kalau saya berhenti, siapa yang mau makan?” Atau Bu Rini, guru TK yang tetap mengajar walau muridnya cuma lima orang. Ia percaya, “Anak-anak desa juga berhak pintar.” Mereka bukan tokoh nasional, tapi mereka pahlawan. Dan Tuhan menyertai mereka, seperti Ia menyertai Yosua saat memimpin bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian.
Peringatan kemerdekaan di desa sering diisi dengan lomba-lomba sederhana: tarik tambang, balap karung, makan kerupuk. Tapi di balik tawa itu, ada harapan besar. Bahwa anak-anak desa bisa tumbuh jadi pemimpin, bahwa warga bisa hidup rukun, bahwa gereja bisa jadi tempat penguatan iman. Dan semua itu butuh pahlawan—bukan yang gagah berani di medan perang, tapi yang setia di ladang, di dapur, di ruang kelas, dan di mimbar gereja.
Renungan ini mengajak kita untuk melihat diri kita sendiri sebagai pahlawan. Bukan karena kita hebat, tapi karena Tuhan menyertai. Ia tidak menuntut kita jadi sempurna, tapi Ia ingin kita kuat dan teguh. Ia tahu jalan kita tidak mudah, tapi Ia berjanji akan berjalan bersama kita. Jadi, saat kita merasa lelah, ingatlah bahwa Tuhan ada di samping kita. Saat kita merasa gagal, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah menyerah atas kita.
Kemerdekaan sejati adalah saat kita bisa hidup dengan harapan, dengan kasih, dan dengan keberanian. Di desa, itu berarti tetap menanam walau hujan belum turun, tetap mengajar walau gaji kecil, tetap melayani walau jemaat sedikit. Karena Tuhan menyertai, dan itu cukup. Kita tidak perlu jadi terkenal untuk jadi pahlawan. Cukup jadi orang yang setia, yang tidak kecut hati, dan yang percaya bahwa Tuhan bekerja lewat hidup kita.
Jadi, mari kita rayakan kemerdekaan dengan hati yang teguh. Mari kita jadi pahlawan di tempat kita masing-masing. Mari kita kuatkan hati, karena Tuhan menyertai kita—ke manapun kita pergi, di sawah, di pasar, di gereja, di rumah. Kita adalah pahlawan desa, dan Tuhan bangga atas kita.