Membangun Peradaban yang Kaya di Hadapan Allah

PENDALAMAN ALKITAB-7

Nats diambil dari Lukas 12:13-21 (TB):

13 Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”
14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”
15 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”
16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.
17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.
18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?
21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Kita memulai Bulan Kebangsaan dengan sebuah panggilan luhur: membangun peradaban yang tidak hanya maju secara teknologi dan ekonomi, tetapi juga kaya secara rohani. Peradaban yang kaya di hadapan Allah adalah peradaban yang menjunjung keadilan, kasih, dan kebenaran. Jemaat diajak untuk melihat bahwa bangsa yang besar bukan hanya yang kuat secara militer atau politik, tetapi yang hidup dalam terang Tuhan. Dalam bacaan hari ini, Yesus menanggapi permintaan seseorang yang ingin warisan dibagi secara adil. Tapi alih-alih menjadi mediator, Yesus justru mengarahkan perhatian pada akar masalah: ketamakan. Ia lalu menyampaikan perumpamaan tentang orang kaya yang sibuk menimbun hasil panennya, membangun lumbung-lumbung besar, dan merasa aman karena hartanya melimpah. Tapi malam itu juga, nyawanya diambil, dan semua rencananya jadi sia-sia. Ini bukan sekadar kisah tentang kematian mendadak, tapi tentang hidup yang gagal memahami makna kekayaan sejati.

Bayangkan seorang pengusaha sukses yang punya banyak aset, tapi hidupnya penuh kekhawatiran. Ia takut kehilangan, takut ditipu, takut bangkrut. Di sisi lain, ada seorang ibu di desa yang hidup sederhana, tapi selalu berbagi hasil kebunnya, rajin berdoa, dan mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai iman. Siapa yang lebih kaya di hadapan Allah? Atau seorang pemuda yang kerja keras di kota, punya gaji besar dan rumah mewah, tapi hidupnya kosong karena tidak punya damai sejahtera. Kekayaan tanpa Tuhan adalah kemiskinan yang tersamar. Kita bisa punya banyak, tapi tetap merasa kurang. Kita bisa punya segalanya, tapi kehilangan arah.

Renungan ini mengajak kita untuk mengevaluasi: apakah kita sedang membangun lumbung atau membangun kerajaan Allah? Apakah kita sibuk menimbun atau sibuk melayani? Dalam konteks kebangsaan, kita diajak untuk tidak hanya membangun jalan, gedung, dan teknologi, tapi juga membangun karakter bangsa. Bangsa yang kaya di hadapan Allah adalah bangsa yang peduli pada keadilan, yang berani berkata benar, yang tidak korupsi, dan yang mengasihi sesama. Kita butuh pemimpin yang tidak hanya pintar, tapi juga berhati nurani. Kita butuh warga yang tidak hanya produktif, tapi juga peduli. Kita butuh gereja yang tidak hanya ramai, tapi juga relevan.

Sebagai jemaat, kita dipanggil untuk menjadi bagian dari peradaban yang kaya di hadapan Allah. Bukan dengan menimbun, tapi dengan memberi. Bukan dengan membangun lumbung, tapi dengan membangun relasi. Bukan dengan mengejar kenyamanan, tapi dengan memperjuangkan kebenaran. Mari kita mulai Bulan Kebangsaan ini dengan komitmen baru: menjadi warga negara yang tidak hanya sukses secara duniawi, tapi juga berkenan di hadapan Tuhan. Karena pada akhirnya, yang dinilai bukan seberapa besar lumbung kita, tapi seberapa dalam kasih kita. Dan bangsa yang hidup dalam terang Tuhan adalah bangsa yang benar-benar merdeka.