Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju

Renungan Harian Agustus - (17)

Nats diambil dari Filipi 2:1–11 (TB):

“Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya, hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang di atas bumi dan yang di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!”

Bersatu dalam kasih, berdaulat dalam iman, mensejahterakan sesama, dan memajukan Indonesia dengan tindakan nyata

Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan, tapi juga panggilan untuk hidup dalam kebersamaan yang saling menghargai. Di desa-desa, kita merayakan HUT RI dengan lomba tarik tambang, panjat pinang, makan kerupuk, dan upacara bendera sederhana di lapangan. Tapi di balik semua itu, ada semangat gotong royong yang luar biasa. Warga saling bantu mengecat gapura, anak-anak latihan paduan suara, ibu-ibu masak untuk peserta lomba, dan bapak-bapak pasang bendera di sepanjang jalan. Semua bergerak bukan karena disuruh, tapi karena cinta pada tanah air dan sesama.

Renungan ini mengajak kita melihat bahwa persatuan bukan hanya soal duduk bersama, tapi soal hati yang sehati sepikir. Di Filipi 2, Paulus menekankan bahwa sukacita sejati lahir dari kesatuan dalam kasih. Di desa, kita bisa lihat ini nyata: saat sawah gagal panen, tetangga datang bawa beras; saat ada yang sakit, warga patungan untuk biaya berobat. Ini bukan sekadar solidaritas, tapi cerminan kasih Kristus yang rela mengosongkan diri demi orang lain.

Ilustrasi sederhana: bayangkan sepuluh lidi yang diikat jadi satu—kokoh dan sulit dipatahkan. Tapi seribu lidi yang tercerai berai, mudah hancur. Begitu juga bangsa kita. Kalau kita bersatu, tak ada tantangan yang tak bisa kita hadapi. Tapi kalau kita sibuk saling menyalahkan, merasa paling benar, dan menuntut hak tanpa memberi, kita akan mudah dipecah belah.

Berdaulat bukan hanya soal politik atau ekonomi, tapi soal hati yang merdeka dari ego. Di desa, kita belajar berdaulat lewat keputusan bersama di musyawarah dusun, lewat semangat swadaya membangun jalan, jembatan, atau posyandu. Ketika rakyat diberi ruang untuk berpartisipasi, mereka merasa dihargai dan punya kuasa untuk menentukan arah hidupnya.

Kesejahteraan bukan hanya soal uang, tapi soal rasa aman, damai, dan harapan. Di desa, kesejahteraan bisa berarti anak-anak bisa sekolah tanpa harus jalan kaki 5 km, atau ibu hamil bisa periksa ke bidan tanpa harus naik ojek mahal. Ketika kita bersatu dan saling peduli, kesejahteraan bukan mimpi, tapi buah dari kerja sama.

Indonesia maju bukan karena gedung tinggi atau teknologi canggih, tapi karena rakyatnya punya hati yang mau belajar, bekerja, dan melayani. Di desa, kemajuan bisa berarti ada pelatihan pertanian organik, ada koperasi yang dikelola warga, atau ada kelompok doa yang rutin mendoakan bangsa. Semua itu adalah bentuk kemajuan yang berakar dari iman dan kasih.

Jadi, mari kita rayakan kemerdekaan bukan hanya dengan bendera dan lagu, tapi dengan komitmen untuk bersatu, rendah hati, dan saling melayani. Seperti Kristus yang rela turun menjadi hamba, kita pun dipanggil untuk membangun Indonesia dari desa, dari hati, dari kasih. Karena ketika kita bersatu dalam Kristus, kita bukan hanya merdeka, tapi juga berdaulat, sejahtera, dan maju.