Kasih dan Kesetiaan

Nats diambil dari Mazmur 85:10–11 (TB):
“Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.”
KASIH DAN KESETIAAN
Kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari penjajahan, tapi juga soal bagaimana kita membangun kehidupan yang adil dan damai. Di desa, kita sering dengar keluhan: harga hasil panen nggak stabil, bantuan nggak merata, atau keputusan desa yang kadang berat sebelah. Tapi Firman Tuhan dalam Mazmur ini memberi harapan: kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Artinya, kemerdekaan sejati adalah saat kasih dan keadilan berjalan bersama.
Saat kita rayakan 17 Agustus, kita mengenang perjuangan para pahlawan. Tapi perjuangan itu belum selesai. Di desa, perjuangan sekarang adalah melawan ketidakadilan, kemiskinan, dan ketidakpedulian. Kemerdekaan yang Tuhan berikan harus diwujudkan dalam tindakan nyata: saling menghormati, jujur dalam usaha, dan adil dalam keputusan. Kalau kita hidup dalam kasih dan kesetiaan, maka keadilan akan tumbuh dari bumi—dari ladang, dari pasar, dari rumah-rumah warga.
Ilustrasinya begini: di satu desa, ada lomba balap karung. Tapi panitianya pilih kasih, anak dari keluarganya dikasih karung yang lebih besar dan ringan. Warga protes, dan akhirnya lomba diulang dengan adil. Setelah itu, semua orang senang. Itu contoh kecil, tapi penting. Keadilan bukan soal teori, tapi soal keberanian untuk berlaku benar, meski itu nggak populer.
Kemerdekaan Indonesia diraih dengan darah dan air mata. Tapi kemerdekaan itu harus terus dijaga dengan keadilan dan kasih. Di desa, kita bisa mulai dari hal-hal sederhana: nggak curang waktu jual hasil panen, nggak pilih kasih dalam pelayanan, dan nggak menyebar gosip yang bisa merusak damai. Kalau kita hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan, maka keadilan akan menjenguk dari langit—berkat akan turun, dan damai akan tinggal.
Jadi, saat kita pasang bendera merah putih dan nyanyi “Indonesia Raya,” mari kita juga pasang tekad untuk hidup dalam kasih dan keadilan. Karena kemerdekaan sejati bukan cuma soal bebas, tapi soal membangun kehidupan yang penuh damai dan berkenan kepada Tuhan. Di desa kita, mari jadi pelaku kasih dan keadilan, supaya kemerdekaan yang kita rayakan benar-benar terasa sampai ke akar rumput.