Kemerdekaan yang Menyembuhkan

Nats diambil dari Mazmur 144:15 (TB):
“Berbahagialah bangsa yang demikian keadaannya; berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN!”
Kemerdekaan yang Menyembuhkan
Di desa, peringatan Hari Kemerdekaan bukan sekadar seremoni. Itu momen di mana warga berkumpul, mengenang perjuangan, dan berharap masa depan yang lebih baik. Tapi di balik sorak-sorai lomba dan syukuran, ada luka-luka yang belum sembuh: kemiskinan, ketidakadilan, konflik antarwarga, dan rasa putus asa yang kadang menyelinap diam-diam. Mazmur 144:15 memberi kita pengingat penting: kebahagiaan sejati sebuah bangsa bukan karena kekayaan, teknologi, atau kekuatan militer—tapi karena Allahnya adalah TUHAN.
Kemerdekaan Indonesia diraih dengan pengorbanan besar. Tapi kemerdekaan sejati hanya bisa diraih kalau bangsa ini kembali kepada Tuhan. Di desa, ini bisa dimulai dari hal-hal kecil: doa bersama sebelum lomba, ibadah syukur kemerdekaan, atau sekadar saling mendoakan antarwarga. Ketika Tuhan jadi pusat hidup komunitas, maka luka-luka sosial bisa mulai disembuhkan.
Ilustrasinya begini: di satu desa, ada konflik lama antara dua keluarga karena sengketa tanah. Tapi saat peringatan 17 Agustus, mereka duduk bersama dalam ibadah syukur, saling minta maaf, dan mulai membangun kembali hubungan yang rusak. Itu bukan karena aturan desa, tapi karena mereka sadar bahwa Tuhanlah sumber damai. Kemerdekaan yang sejati bukan cuma soal lepas dari penjajahan, tapi soal bebas dari dendam dan luka batin.
Mazmur ini juga mengajak kita untuk melihat bahwa kebahagiaan bangsa bukan soal keadaan ekonomi semata, tapi soal siapa yang jadi pusat hidup kita. Kalau Tuhan yang memimpin, maka desa kita bisa jadi tempat yang penuh damai, kasih, dan harapan. Kita bisa jadi bangsa yang benar-benar merdeka—bukan cuma secara politik, tapi juga secara rohani dan sosial.
Jadi, saat kita nyanyi “Indonesia Raya” dan pasang bendera, mari kita juga pasang tekad: bahwa kita mau jadi bagian dari bangsa yang Allahnya adalah TUHAN. Kita mau hidup dalam kasih, saling melayani, dan membangun desa kita dengan semangat kemerdekaan yang sejati. Karena kemerdekaan yang menyembuhkan luka bangsa adalah kemerdekaan yang berasal dari Tuhan.